• PERAN PERAWAT MATA DALAM PENGENDALIAN ENDOFTALMITIS POST OPERATIVE KATARAK
oleh : Ns.Ully Ferani, S.Kep |
Primary Ners Kamar Bedah Gedung Kirana RSCM, Jakarta

Operasi  katarak  adalah  salah  satu  operasi  mata  yang  paling  umum dilakukan  di  seluruh  dunia,  dan  endoftalmitis  akut  pasca  operasi  katarak menjadi salah  satu  komplikasinya yang paling ditakuti oleh dokter operator dan tim bedahnya . Kejadian diperkirakan operasi katarak akut endoftalmitis berikut adalah sekitar 0,3%.

Dari berbagai factor penyebab terjadinya endoftalmitis pasca operasi katarak peran perawat bedah mata dalam mengendalikan dan mencegah terjadinya infeksi sangat besar dan hampir bisa dikatakan punya peran penting dalam mencegah infeksi .

Dengan mengenal dan mengerti tentang endoftalmitis pasca operasi katarak diharapkan perawat bedah mata mampu mencegah dan meminimalkan resiko terjadinya endhopthalmitis dengan mengendalikan dan memutus factor – factor penyebab infeksi .

A. Endoftalmitis Akut Pasca Bedah Katarak

Endoftalmitis adalah salah satu diagnosis yang paling dahsyat dalam oftalmologi. Merupakan gangguan inflamasi intraokular serius yang mempengaruhi rongga vitreous yang berasal dari penyebaran eksogen atau endogen  organisme penginfeksi ke dalam mata dan hampir selalu disebabkan oleh infeksi bakteri. Tanda-tanda infeksi dapat muncul dalam waktu satu sampai dengan enam minggu dari operasi. Namun, dalam 75-80% kasus muncul di minggu pertama pasca operasi. Sekitar 56-90% dari bakteri yang menyebabkan endoftalmitis akut adalah gram positif, dimana yang paling sering adalah Staphylococcus epidermis, Staphylococcus aureus dan Streptococcus. Bakteri Gram negative 7-29% dari kasus endoftalmitis, dan Proteus aeruginoza dan Haemophilus telah dilaporkan sebagai bakteri yang paling sering.

Menurut data,  endoftalmitis akut setelah operasi katarak menggunakan metode modern operasi phaco sangatlah  bervariasi, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, meskipun menerapkan langkah-langkah modern, angka infeksi mencapai 0,1%. Karakteristik klinis dari endoftalmitis akut setelah operasi katarak diwujudkan dengan munculnya rasa sakit dan penurunan tak terduga dalam ketajaman visual, diikuti oleh pembengkakan kelopak mata dari berbagai tingkat serta tanda-tanda ditandai dari hyperemia silia dan fotofobia. Munculnya infiltrat dan presipitat  kornea, bersama dengan tanda-tanda  eksudat fibrin dan hipopion, juga merupakan tanda-tanda karakteristik  endoftalmitis. Sakit mata dan hypopyon terjadi pada 75% kasus. Eksudat fibrin terutama terlihat di iris, dan biasanya berhubungan dengan munculnya sinekia posterior. 

Tanda-tanda klinis sering adalah hilangnya aferen pupil refleks, kekeruhan dalam vitreous (vitritis) dari berbagai derajat, yang biasanya menyebabkan hilangnya refleks merah.Tanda-tanda ditandai peradangan dapat ditemui pada kornea, ruang anterior, lensa dan badan vitreous, dalam situasi dimana retina biasanya sulit dijangkau untuk pemeriksaan. Peradangan yang mempengaruhi struktur trabeculum dan badan siliar dapat menyebabkan glaukoma sekunder, atau sebaliknya, dan menyebabkan hipotoni mata. 

Masalah yang paling serius muncul adalah  kerusakan retina neurosensorik dan epitel pigmen retina, yang dapat menyebabkan kerusakan permanen dari proses fotokimia dasar dalam pembentukan penglihatan.

B  Diagnosis banding

  1. Retensi fragmen lensa 

Retensi korteks lensa atau nukleus dapat menyebabkan peradangan intraokular yang signifikan dalam keadaan akut atau kronis. Hasil operasi dari ahli bedah katarak dan hasil visualisasi fragmen dapat membantu dalam membedakan kondisi ini dari endophthalmitis.

  1. TASS, toxic anterior segment syndrome

Kondisi ini disebabkan peradangan, ditandai karena zat non infeksi yang masuk ke dalam mata, seperti toksin bakteri, pengawet, senyawa pembersih atau solusi intraokular. Kondisi ini kadang-kadang dapat dibedakan dari endophthalmitis oleh onset yang cepat (dalam 12-24 jam setelah operasi atau injeksi intravitreal), kurangnya rasa sakit atau kemerahan, edema kornea difus dan kurangnya organisme terisolasi dengan pewarnaan atau kultur.

C. Faktor Risiko

Risiko endoftalmitis pascaoperasi akut dikaitkan dengan sejumlah faktor seperti adanya penyakit pada kelopak mata atau konjungtiva, kondisi umum pasien seperti diabetes, penyakit kulit, penggunaan obat imunosupresif, operasi intraokular yang dilakukan, dan komplikasi intraoperatif. Tabel 4 menguraikan risiko faktor yang terkait dengan endophthalmitis menurut kategori.

D. Terapi

  1. Non Farmakologi
    • Menjelaskan bahwa penyakit yang diderita memiliki prognosa yang buruk yang  mengancam bola  mata dan nyawa apabila tidak tertangani.
    • Menjelaskan bahwa penyakit tersebut dapat mengenai mata satunya, sehingga perlu dilakukan pengawasan yang ketat tentang adanya tanda-tanda inflamasi pada mata seperti mata merah, bengkak, turunnya tajam penglihatan, kotoran pada mata untuk segera untuk diperiksakan ke dokter mata.
    • Menjelaskan bahwa penderita menderita diabetes yang memerlukan pengontrolan yang ketat baik secara diet maupun medikamentosa. Hal ini disebabkan oleh karena kondisi hiperglikemia akan meningkatkan resiko terjadinya bakteriemi yang dapat menyerang mata satunya, atau bahkan dapat berakibat fatal  jika menyebar ke otak.
    • Perlunya menjaga kebersihan gigi mulut, sistem saluran kencing yang memungkinkan menjadi fokal infeksi dari endoftalmitis endogen.
  1. Farmakologi
    • Terapi Antibiotik
    • Intravitreal antibiotik
    • Topical antibiotic
    • Sistemic antibiotic
    • Terapi steroid
    • Terapi suportif
  1. Operatif
    • Vitrectomy adalah tindakan bedah dalam terapi endophthalmitis. Bedah debridemen rongga vitreous terinfeksi menghilangkan bakteri, sel-sel inflamasi, dan zat beracun lainnya untuk memfasilitasi difusi vitreal, untuk menghapus membran vitreous yang dapat menyebabkan ablasio retina, dan membantu pemulihan penglihatan. Endoftalmitis vitrectomy Study (EVS) menunjukkan bahwa di mata dengan akut endophthalmitis operasi postcataract dan lebih baik dari visi persepsi cahaya. Vitrectomy juga  memainkan peran penting dalam pengelolaan endoftalmitis yang tidak responsif terhadap terapi medikamentosa.

E. Prognosis

  1. Prognosis sangat variabel karena berbagai organisme yang terlibat. Ketajaman visual pada saat diagnosis dan agen penyebab yang paling prediktif hasil.
  2. Hasil endophthalmitis endogen umumnya lebih buruk daripada endophthalmitis eksogen karena profil dari organisme biasanya terlibat dengan bentuk (misalnya, organisme yang lebih ganas, tuan rumah berkompromi, keterlambatan dalam diagnosis).
  3. Pasien dalam subkelompok traumatis, terutama yang disebabkan oleh infeksi Bacillus biasanya memiliki hasil visual yang miskin.
  4. Dalam studi vitrectomy kelompok endophthalmitis, 74% dari pasien mengalami pemulihan visual 20/100 atau lebih baik.

F. Peran Perawat Bedah Mata / Scrub Ners dalam pengendalian infeksi pasca operasi katarak adalah :

  1. Persiapan pasien
    • Perawat mata mampu melakukan indentifikasi keadaan pasien yang mempunyai factor resiko terjadinya infeksi pasca operasi seperti bleparitis , conjungtifitis , infeksi pada sekitar kelopak mata /dermatitis , kebersihan mata pasien yang buruk dan pasien dengan diabetes mellitus karna pasien tersebut mempunyai factor resiko terjadinya endhopthalmitis yang besar .
    • Pada sejumlah penelitian menunjukan bahwa sumber microorganism penyebab edhopthalmitis pasca operasi berasal dari flora normal pada kelopak dan konjungtiva. Untuk itu melakukan desinfeksi yang baik dan benar dengan iodine 5% pada conjungtiva dan 10% diarea mata pada saat sebelum tindakan bedah mata dapat menurunkan resiko terjadinya endoftalmitis.
    • Penggunaan Eye drape dengan pemasangan yang baik dan benar untuk mengisolasi bulu mata dan margo palpebra dari daerah operasi juga dapat menurukan factor resiko infeksi pasca operasi .
  1. Persiapan Perawat bedah mata / Scrub Ners eye surgery
    • Gunting kuku sampai pendek , jangan gunakan kuku palsu dan perhisan pada tangan .
    • Menggunakan APD terutama pemakaian masker yang baik dan benar
    • Lakukan cuci tangan bedah yang baik dan benar minimal 2 menit dengan menggunakan larutan antiseptic yang direkomendasikan dan mencuci tangan sampai kesiku.
    • Setelah melakukan cuci tangan , pertahankan tangan pada posisi menjauhi tubuh (siku posisi fleksi ) sehingga air mengalir dari ujung jari menuju siku .
    • Keringkan tangan dengan menggunakan handuk steril, kemudian kenakan baju dan sarung tangan seril sesuai prosedur yang benar .
  1. Persiapan lingkungan kamar operasi
    • Ditemukan dalam kasus endhopthalmitis yang disebabkan oleh Pseudomonas Aeruginosa yang mempuyai strain yang sama dengan strain yang terdapat dalam pendingin ruangan operasi ( AC ) .
    • Untuk itu perawat bedah mata bekerja sama dengan unit terkait untuk selalu menjaga ruang operasi dalam keadaan baik seperti :
      • lingkungan operasi harus bersih sebelum dipakai disiapkan kamar operasi khusus untuk operasi mata atau operasi bersih dan melakukan fogging sebelum tindakan / sterilisasi ruangan.
      • Ventilasi menggunakan  AC  sentral  atau  semi  sentral  dengan  98%  steril  dan  dilengkapi      Ventilasi   harus   dengan   sistem   tekanan   positif/   total pressure , dengan suhu diatur 19 – 24 derajat dengan kelembapan 40-60% dan harus stabil . Dengan Filter yang dipakai adalah HEPA FILTER
      • Mengendalikan jumlah petugas yang masuk dalam kamar operasi maksimal 7 orang pada saat tindakan berlangsung,
      • Bekerja sama dengan unit terkait untuk melakukan kultur angka kuman ruangan kamar operasi rutin minimal 6 bulan sekali (10 CFU/m³) .
  1. Persiapan Alat dan Intrumen
    • Telah menjadi tanggung jawab perawat bedah mata untuk memastikan intrumen dan alat yang dipakai dalam keadaan steril dan menjaganya tetap steril hingga selesai tindakan operasi. Untuk itu prilaku dan kedisiplinan perawat bedah mata saat tindakan operasi juga menjadi factor utama memutus rantai infeksi pasca operasi .
    • Perawat bedah mata selalu memperhatikan label steril pada intrumen dan memastikan tanggal sterilisasi .
    • Bekerja sama dengan unit terkait untuk selalu memonitor alat strilisasi ( Autoclave dll ) kalibaris dengan kultur dan uji biologis minimal 6 bulan sekali untuk standar sterilisasi intrumen yang disteril .

Diharapakan dengan mengenal dan mengerti tentang endoftalmitis pasca operasi katarak dan bagaimana mencegahnya, perawat  mata dapat memutus beberapa factor – factor penyebab terjadinya endoftalmitis .

Daftar Pustaka

  1. Maalouf F, Abdullal M, Haman R,N Chronic Postoperative Endophtalmitis; A reviw of clinical characteristic, microbiologi,treatment strategies and outcomes, internasional jurnal of inflammation.2012
  2. Ojaimi Elvis and Davit T Wong, Endophalmitis, Prevention and treatment. University of Toronto. 2013
  3. Iiyas, S.H, Mailangkay, Th .Ilmu Penyakit Mata . Edisi Ketiga. Jakarta, balai Penerbit FKUI,2006
  4. Dirjen Yanmed 2008, Pedoman Pelayanan dan Penyelenggaraan Rumah Sakit, Depkes RI
  5. Kliment ,2006, Healthcare Fasilities ,American Hospital Associstion Institute
  6. Peraturan Menteri Kesehatan (PERMENKES RI) tentang persyaratan bangunan fisik kamar operasi tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X/2004